Nyanyian dan Tarian untuk Memaknai Arti Pulang
Musikal Keluarga Cemara 2025: Kisah Lama, Rasa Baru
THE SHOW ID – Keluarga Cemara bukan sekadar cerita, melainkan sebuah kekayaan intelektual yang sudah melekat kuat dalam perjalanan budaya pop Indonesia. Sejak dihidupkan oleh mendiang sastrawan dan jurnalis, Arswendo Atmowiloto, dalam cerita bersambung di majalah Hai – hingga kemudian dibuat dalam bentuk novel di era 80-an, kisah sederhana tentang Abah, Emak, Euis, dan Ara telah hadir dalam berbagai medium: sinetron, film, hingga pertunjukan musikal.
Meski sudah puluhan tahun, relevansi kisah ini rasanya tidak pernah luntur. Dengan sederhana, Keluarga Cemara selalu mengingatkan kita pada nilai-nilai penting dalam hidup yaitu kehangatan keluarga dan arti pulang.
Kini, kisah yang tak lekang oleh waktu ini balik lagi ke atas panggung dalam format pertunjukan Musikal Keluarga Cemara. Sebuah selebrasi seni yang tidak cuma bagus tapi juga membuat hati penontonnya terasa penuh setelah nonton pertunjukannya.
Tetangga Keluarga Cemara yang Curi Perhatian

Musikal Keluarga Cemara tahun ini kembali dipentaskan di Ciputra Artpreneur, Jakarta, mulai 20 Juni hingga 13 Juli 2025, setelah kesuksesan tahun sebelumnya yang berhasil mendatangkan lebih dari 30 ribu penonton. Bersamaan dengan momen liburan sekolah, Musikal Keluarga Cemara dipentaskan total 30 kali selama masa pertunjukan. Produksi yang dipersembahkan oleh Visinema Studios dan Indonesia Kaya ini, sekali lagi berhasil menghadirkan pengalaman teater yang memikat hati.
Disutradarai oleh Pasha Prakasa, musikal ini melibatkan sekitar 35 pemain di antaranya Taufan Purbo, Simhala Avadana, Andrea Miranda, dan Galabby yang memerankan karakter Abah dan Emak. Sementara Amira Karin, Aisyah Fadhila, Fazka Bahanan, dan Quinn Salman secara bergantian memerankan Euis dan Ara.
Bukan sekadar soal nostalgia, musikal ini juga menghadirkan penampilan yang lebih segar dan touchy. Dengan tata artistik yang semakin megah, musik yang lebih detil, dan sentuhan isu sosial masa kini, Musikal Keluarga Cemara 2025 memberikan ruang bagi penonton buat merenungkan makna keluarga di tengah hiruk-pikuk dan peliknya memenuhi tuntutan hidup di zaman now.
Aku berkesempatan menyaksikan pertunjukan ini saat media preview pada Rabu (18/6), dua hari sebelum pertunjukan untuk umum. Karena momennya khusus, semua pemeran Abah, Emak, Euis, dan Ara turut bermain. Taufan Purbo, Galabby, Aisyah Fadhila, dan Fazka Bahanan tampil sebagai Abah, Emak, Euis, dan Ara di segmen pertama. Sementara di segmen kedua, gantian Simhala Avadana, Andrea Miranda, Amira Karin, dan Quinn Salman yang tampil.
Meski sudah hafal di luar kepala dengan jalan cerita Keluarga Cemara, ternyata pas nonton, rasanya seperti nonton pertunjukan baru loh! Cerita dari karakter-karakter pendukungnya dikembangkan sehingga ceritanya makin kaya dan menghibur. Malah, ada point of view berbeda yang aku dapatin dari pertunjukan ini: tetangga yang seru, heboh, tapi penyayang berperan besar pada keberhasilan Abah, Emak, Euis, dan Ara dalam melalui masa sulit mereka.
Karakter-karakter tetangga Abah di Desa Cinangneng, Jawa Barat (lokasi yang jadi setting cerita Musikal Keluarga Cemara, Pen) memang seseru dan sepecah itu! “Ini sih Keluarga Cemara-nya nggak cuma Keluarganya Abah, tapi tetangga ini juga. Tetangga Cemara,” celetukku ke seorang kawan yang ikut nonton bareng. Dan, dia pun setuju dengan pendapat itu. “Iya bener. Rejeki banget tuh keluarganya Abah punya tetangga seseru dan sesayang itu sama mereka,” timpalnya.
Sutradara Pasha Prakasa bilang, “Kami bawa pembaruan dalam cerita Abah dan Emak, supaya memberikan pengalaman yang imersif buat penonton Musikal Keluarga Cemara 2025.” Menurutku, pengalaman imersif itu memang tercipta sih. Kamu berhasil, Mas sutradara!
Buat para pemain, pertunjukan panggung Musikal Keluarga Cemara tentu punya tempat spesial di hati mereka. Chemistry yang terjalin di atas panggung sangat kuat dan nyampe ke hati penonton. Bahkan ku tengok-tengok, banyak lho penonton dewasa dan anak-anak yang diam-diam menyeka air matanya ketika adegan-adegan yang memang mengandung bawang.
“Kembali memerankan Emak sebenarnya adalah tantangan, karena sudah setahun berlalu dan kini kembali dipercaya untuk peran ini. Rasanya justru seperti pertama kali bertemu dengan para lawan main. Namun, kami sangat menikmati prosesnya karena rasanya begitu hangat. Dengan formasi keluarga yang berubah, ada perspektif baru yang harus dicocokkan, tapi rasanya tetap sama, seperti kembali ke rumah,” kata pemeran Emak, Andrea Miranda dalam keterangan pers.
Dari awal sampe akhir, sebagai penonton, hati aku terasa penuh dan hangat. Ikut nyanyiin lagu-lagunya, ikut tertawa lihat kelakuan tetangga Abah dan Emak yang ajaib, ikut sedih dan haru saat adegan Abah dan Euis deep talk, pokoknya abis nonton hati terasa bahagia. Bahkan, setelah adegan ending dan semua pemain tampil di panggung untuk menyapa penonton, kita semua berdiri dan menyanyikan lagu. Bukan, bukan lagu Indonesia Raya. Kita semua berdiri nyanyi soundtrack Keluarga Cemara, Harta Berharga, bersama-sama. Best!
Kalau kamu baru pertama kali mau nonton pertunjukan musikal, menurutku Musikal Keluarga Cemara pilihan yang tepat. Ceritanya ringan, lagu-lagunya bisa kamu dengerin dulu di Spotify –atau hafalin liriknya kalau mau, jadi pas nonton kamu bisa sing along. Pertunjukan ini juga cocok buat segala usia. Untuk tiketnya, bisa didapetin di Tiket.com.
Dari Lagu Panggung, Lanjut ke Playlist, Repeat

Selain kisahnya yang menghangatkan hati, kekuatan Musikal Keluarga Cemara lainnya adalah musikalitas. Lagu-lagu dari musikal ini diproduksi dengan sangat keren dan telah dirilis dalam bentuk album pada 2024. Album berjudul Musikal Keluarga Cemara (Original Cast Recording) itu bahkan menyabet penghargaan AMI Awards 2024 kategori Album Musikal Terbaik.
Simhala Avadana, yang menjadi penulis lirik, komposer, serta pemeran Abah, mengatakan musik yang ada di Musikal Keluarga Cemara tahun ini akan terasa lebih sempurna. Hal ini, disebut Mhala –panggilan Simhala, karena ia bersama Ifa Fachir sebagai komposer, dan Ivan Tangkulung sebagai music director, bekerja sama untuk meramu musik di pentas tahun ini dengan peningkatan agar membawa kebaruan.
“Secara musik, bisa dipastikan pertunjukan tahun ini jauh lebih detail karena ada waktu untuk menyempurnakannya. Penonton yang datang dan menyaksikan, akan mendengarkannya seperti pengalaman menonton untuk pertama kalinya,” katanya.
Nah, tahun ini, ada yang baru lagi. Visinema Studios merilis album kolaborasi dengan musisi lintas generasi. Mereka menyanyikan lagu-lagu dari Musikal Keluarga Cemara dengan aransemen yang lebih komersil. Album yang diberi judul Lagu-Lagu Cemara ini semakin membawa pertunjukan ini ke tingkatan yang lebih luas.
Mengutip Liputan6.com produser Musikal Keluarga Cemara 2025 Cristian Imanuell menceritakan, ada 7 lagu yang dipilih dan diaransemen ulang, untuk dimasukkan dalam album yaitu Waktunya Membuktikan; Opak Party; Rencana Bukan Rencana; Bahagia YHA!; Indah Apa Adanya; Pelukmu Sementara, Hatiku Selamanya; dan Seperti Cemara. Ketujuh lagu tersebut dinyanyikan oleh musisi dan penyanyi yang mewakili tujuh generasi yaitu JKT48, Rapot, Ruth Sahanaya, GAC, Feby Putri, Vidi Aldiano, dan The Lantis. Klip video untuk tujuh lagu tersebut juga telah diproduksi dan dirilis bertahap.
Buatku pribadi, aransemen lagu yang paling menarik adalah Seperti Cemara yang dinyanyikan sama band The Lantis. Nuansa lagunya diubah menjadi ala 70-an khas The Lantis. “Lagu ini kami dengar dan rasanya membawa kehangatan, dan tipe lagu yang jujur apa adanya. Kami merasa lagu ini sangat reflektif. Kami pun berpikir, ‘kayaknya asyik nih kalau aransemennya dibuat dengan cara kami, sedikit ala 60’s, 70’s,” ucap Giri Virandi, vokalis The Lantis, dikutip dari Suara.com. Lagu-Lagu Cemara sudah bisa didengarkan di digital streaming platform dan jujur, udah masuk playlist Spotify-ku.(*)
Kredit Foto: Courtesy Visinema Studios & Indonesia Kaya



