Sore (yang Memang) Idaman
THE SHOW ID – Dua minggu ini, film Sore: Istri dari Masa Depan (yang punya singkatan resmi Sore: Idaman) viral. Ulasan dari penonton, kritikus, sampai sineas, semuanya positif. Film Sore, nyatanya, memang sebagus itu. Konsep cerita, visual, sampai soundtrack-nya sempurna. Alhasil, tak sampai 10 hari tayang, sudah berhasil menembus sejuta penonton. Sampai artikel ini ditulis, jumlah penonton mencapai lebih dari 2 juta.
Sinopsis

Sore: Istri dari Masa Depan menceritakan Jonathan/Jo, seorang fotografer yang tinggal di Kroasia. Di sana, dia bertemu dengan Sore, perempuan yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Sore berusaha “menyelamatkan” Jo dari takdir buruk di masa depan. Termasuk, kematian. Jo awalnya menolak kehadiran Sore yang begitu tiba-tiba. Namun, usaha keras dan kegigihan Sore berhasil meluluhkan hati Jo. Walau, itu tidak menggaransi masa depan yang serba-sempurna buat mereka.
Sebelum rilis di layar lebar, Sore adalah serial web yang diproduksi oleh Tropicana Slim dan tayang di YouTube pada 2017. Delapan tahun kemudian cerita tersebut dibuat versi filmnya. Dua-duanya disutradarai oleh Yandy Laurens. Di serial web, Sore diperankan oleh Tika Bravani, sementara di versi film, Sore diperankan oleh Sheila Dara.
Selesai Nonton, Masih Kepikiran

Dari awal hingga akhir, film Sore berhasil membuat penontonnya terpukau. Kesan yang ditinggalkan begitu kuat. Bikin bahagia, tersentuh, bahkan setelah selesai nonton pun masih kepikiran. Cerita benar-benar “digerakkan” Jo dan Sore, tanpa tokoh scene stealer atau karakter yang terkesan diada-adakan. Makin komplet lagi karena didukung scoring dan soundtrack yang keren, plus visual yang memikat.
Film ini juga sepertinya jadi salah satu dari sangat sedikit proyek film lokal yang mengeksplor time travel alias perjalanan waktu. Perihal tentang time travel di film ini juga didukung isu masa depan dan perubahan iklim, yang akan tetap relevan diobrolkan kapan saja.
Salah satu yang paling menonjol dari film ini adalah Sore, si tokoh utama. Desain karakternya tetap dipertahankan Yandy, baik di versi serial web maupun filmnya. Meski bisa mengulang masa lalu, Sore “dipaksa” menelan fakta bahwa menyelamatkan Jo tidak mudah. Apalagi, Jo masih bergelut dengan masalah di dirinya sendiri. Sore merasakan nelangsa, patah hati, hingga marah demi suaminya. Tapi, Sore terus luluh dan mau belajar buat lebih memahami Jo. Pun dengan Jo yang perlahan bisa memahami dan melakukan perubahan yang diinginkan Sore.
Chemistry antara Sheila dan Dion yang oke banget, serta pendalaman karakter keduanya yang luar biasa, turut membuat film ini jadi ‘sesuatu’. Keduanya bisa menampilkan emosi yang kuat, meski tanpa dialog panjang atau adegan dramatis. Walau dibalut tema yang futuristik, film Sore tetap pulang ke pesan yang sederhana, manis, dan mengena di hati. Wajib banget, sih, menang di ajang penghargaan perfilman!
Adegan Langit Terbaik di Film Indonesia

Salah satu “aktor terbaik” di film Sore adalah langit. Langit dengan lansekap salju, aurora, maupun langit sore. Setiap adegan dengan background langit tidak cuma cantik, tapi juga memorable.
Scene aurora –baik yang dilihat Sore atau Jo– mungkin jadi yang paling mencuri perhatian. Keduanya meninggalkan kesan berbeda. Jo melihat aurora hijau, fenomena yang lazim terjadi dibanding aurora merah yang dilihat Sore.
Mengutip laman space.com, aurora merah lebih jarang terjadi. Fenomena alam itu biasa terjadi di ketinggian 300–400 km dari permukaan laut, di mana kadar oksigen lebih tipis. Aurora merah juga jadi penanda aktivitas matahari yang meningkat dramatis (yang juga sempat disebut jelang akhir film).
Sedikit fun fact, aurora juga jadi nama karakter Sheila Dara di film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.
Reuni Dion-Sheila untuk Kesekian Kalinya

Dari total 14 karya Yandy Laurens sebagai sineas (mengutip data IMDb), empat di antaranya dibintangi Dion Wiyoko dan Sheila Dara. Di keempat proyek itu pula, mereka diceritakan sebagai pasangan. Di luar karya Yandy, duo Dion-Sheila tercatat sudah beradu akting di tujuh proyek (belum termasuk proyek film televisi). Jadi, enggak perlu heran kalau keduanya udah klik buat akting bareng. Meski, Jo dan Sore sebenarnya berbalik 180 derajat dari kepribadian asli masing-masing.
Di video behind the scene, Sheila Dara menceritakan, Jo adalah karakter goal oriented, yang saking berambisinya, bisa melupakan sekitarnya. Jo sangat fokus buat achieve goals. Berbeda dengan sifat asli Dion Wiyoko. Dion, kata Sheila, seperti umumnya bapak-bapak dengan seabrek dad jokes-nya. Sebaliknya, Sheila –menurut Dion– adalah sosok mager dengan screen time mencapai 16 jam per hari. Tapi, punya sisi yang sama dengan Sore. Sama-sama tertarik mendalami sesuatu, plus punya literasi yang baik.
FYI, Sheila dan Dion tidak cuma jadi cast di film. Di credits film Sore, Sheila juga menjadi bagian dari unit hair and make up di set Kroasia dan Finlandia. Sementara, sebagian karya Jo di Kutub Utara adalah jepretan Dion sendiri. Aktor yang memulai karir sebagai model itu menjadi wakil tunggal Indonesia dalam ekspedisi fotografi National Geographic Indonesia di April 2019. Tim tersebut menjelajak Svalbard, gugusan pulau Arktika di Norwegia.
Goran Bogdan, Nomine Oscar yang Jadi Aktor Pendukung Sore

Di balik karakter Karlo, aktor sekaligus sahabat Jo yang kocak, ada nama Goran Bogdan. Bogdan merupakan aktor Kroasia yang tercatat sudah membintangi lebih dari 40 film produksi Eropa dan Hollywood. Termasuk, proyek pemenang Short Film Palme d’Or Cannes 2024 sekaligus nominasi Oscars 2024, The Man Who Could Not Remain Silent. Pada 2020, Bogdan jadi aktor Kroasia pertama yang masuk nominasi Aktor Terbaik di European Film Awards lewat film Otac.
Selain sebagai aktor, di film Sore, Bogdan juga menjadi acting coach untuk sebuah teater lokal. Jelas, hal itu bukan kebetulan. Soalnya, aktor berusia 44 tahun itu memang punya latar belakang teater. Dia mengawali karirnya di Zagreb Youth Theater, sebelum akhirnya berkuliah di Academy of Dramatic Arts. Di 2013 (alias setahun setelah lulus kuliah), dia juga dinobatkan sebagai Aktor Terbaik di Penghargaan Teater Kroasia yang dilaksanakan portal web Teatar.hr.
Konser Dadakan Sore, Maya, dan Barasuara
Kredit Foto: Poplicist


Di film Sore, Maya Hasan memerankan Maya, ibu Jo yang tinggal di Indonesia. Karakter ini, juga Seno (ayah Jo) yang diperankan Mathias Muchus, merupakan karakter baru yang sebelumnya tidak ada di versi serial webnya. Meski dikenal sebagai aktris, Maya lebih dulu berkarir di bidang musik. Nama Maya mulai dikenal banyak orang setelah berpartisipasi di hits Padi Kasih Tak Sampai, yang rilis pada 2001. Pada 2006, Maya Hasan menjajal dunia akting lewat film Koper.
Sebelum berkarir di dunia akting, lulusan Universitas Willamette itu adalah harpis atau pemain harpa. Dia aktif mengikuti tur dan kompetisi sejak tahun 19900-an. Nah, di awal pekan ini, Maya memamerkan kemampuannya sebagai harpis di konser dadakan di Pondok Indah Mall, Jakarta. Maya, Sheila Dara, dan Barasuara membawakan Terbuang dalam Waktu, yang merupakan soundtrack film Sore.
Musik Soundtrack & Alogaritma

Algoritma platform digital sering mengantar kita ke hal-hal random. Misal, memperkenalkan kita ke rapper India yang bahasanya kadang kita enggak tahu. Tapi, di tangan dingin Yandy Laurens, “kerandoman” itu justru jadi bagian masterpiece film Sore. Dia mengaku, sebagian besar soundtrack, kurasinya lahir dari algoritma platform streaming musik.
Selain menghadirkan lagi Gaze dan Forget Jakarta-nya Adhitia Sofyan dari serial web, Yandy juga menyisipkan lagu Barasuara Pancarona dan Terbuang dalam Waktu. Lagu-lagu itu, juga beberapa pilihan lain yang masuk moodboard film Sore, dia pilih bersama tim produser. Asyiknya, hasil kurasi itu bisa diakses penonton (maupun calon penonton) di platform streaming musik. Playlist berjudul Sore: On Aux di Spotify ini bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja, sambil menyesap cerita dan rasa dari kisah Sore dan Jo.(*)
Penulis: Fahmi
Editor: Janesti
Kredit Foto: Cerita Films



