Movie

Moko & Beban Hidup yang Tak Pernah Diminta

July 20, 2025
Moko &  Beban Hidup yang Tak Pernah Diminta

Film 1 Kakak 7 Ponakan: Sebuah Prolog

THE SHOW ID – Film 1 Kakak 7 Ponakan tayang di bioskop Januari 2025. Film yang disutradarai oleh Yandy Laurens ini berhasil memikat 1.237.043 orang untuk datang ke bioskop dan mengikuti cerita Moko, karakter utama dari film ini. Sekarang, 1 Kakak 7 Ponakan sudah bisa ditonton di Netflix dan menduduki peringkat pertama Top 10 Movies in Indonesia  dan masuk Top 10 Movies in Malaysia pada pekan pertama penayangannya. 

Film 1 Kakak 7 Ponakan diadaptasi dari sinetron berjudul sama (rilis tahun 1996 di RCTI), yang cerita aslinya dibuat oleh Arswendo Atmowiloto. Hampir tiga dekade kemudian, sutradara dan penulis naskah peraih Piala Citra, Yandy Laurens, mengangkat cerita ini ke layar lebar. Yandy dikenal lewat film-filmnya antara lain Keluarga Cemara (sutradara dan penulis naskah), Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (sutradara dan penulis naskah), dan yang terbaru adalah Sore: Istri dari Masa Depan (sutradara dan penulis naskah).   

Kalau sudah nonton film-film besutan Yandy, aku rasa kalian akan setuju kalau kekuatan Yandy sebagai sutradara adalah mempunyai sensitivitas yang tinggi terhadap tema keluarga, hubungan antarmanusia, dan emosi yang mengena. Dari karya-karya filmnya itu, setidaknya kita sebagai penonton paham, dia adalah tipe sutradara yang mengutamakan kedalaman cerita, nuansa, dan ketulusan emosi, bukan sekadar gaya atau gimmick visual. Pun dengan film 1 Kakak 7 Ponakan ini. Kebingungan, kekalutan, dan besarnya cinta pada keluarga yang dirasakan oleh Moko, karakter utama, nular sampai sini (sambil megang dada dan hela napas).   

Jungkir Balik Dunia Moko

film 1 kakak 7 ponakan
Moko (kanan) dan empat keponakannya yaitu Woko, Ano, Nina, dan Ima. Moko berjuang seorang diri demi mengurus keponakan-keponakannya. (Foto: Mandela Pictures, Cerita Films, & Legacy Pictures)

1 Kakak 7 Ponakan menceritakan tentang Moko (diperankan Chicco Kurniawan), lelaki muda dan pintar, yang tiba-tiba harus memikul tanggung jawab berat sebagai “orang tua” setelah kakak perempuan dan suaminya meninggal. Moko harus menjaga 4 keponakannya, satu di antaranya masih bayi baru lahir.  

Rencana Moko setelah lulus kuliah yang sudah disusun sempurna, seketika buyar. Ya gimana, ditinggali tiga ponakan yang masih sekolah dan satu lagi masih bayi, boro-boro mikir buat hidupnya sendiri. Moko yang baik hati dan penuh tanggung jawab itu dibuat tidak berdaya dengan “candaan hidup” yang menimpanya. Tiba-tiba harus jadi kakak, tiba-tiba harus jadi ibu, tiba-tiba harus jadi ayah, tiba-tiba harus jadi kepala keluarga. Semuanya tiba-tiba.  

Dari sosok Moko, penonton diajak memahami peran ibu yang punya tanggung jawab besar merawat anak-anaknya. Ada kalanya, seorang perempuan harus merelakan karirnya ketika memilih untuk menjadi ibu rumah tangga demi merawat anak-anaknya. Begitu juga dengan Moko, impiannya menjadi arsitek dan kuliah S2 terpaksa harus dia singkirkan dahulu, demi merawat keponakan-keponakannya. 

Film ini juga punya makna tersendiri bagi penulis. Karakter Moko juga mewakili para ibu di luar sana yang rela melakukan apapun demi anak dan keluarga. Perjuangan Moko untuk memiliki keseimbangan hidup, antara mewujudkan mimpi dengan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup para ponakan, adalah sesuatu yang penulis yakini sebagai pergulatan yang dialami oleh banyak orang di kehidupan nyata.

Punya banyak uang adalah impian banyak orang. Namun, seperti kalimat pepatah ‘money can’t buy everything’, uang ternyata tak selalu jadi jawaban atas berbagai masalah.  Sutradara dan penulis naskah Yandy Laurens, mengemas kisah Moko di film ini dengan keikhlasan, cinta, juga ketulusan tentang makna keluarga yang ternyata tidak bisa dinilai dengan uang. 

Meski Nyesek, Mari Kita Hargai Keputusan Moko

film 1 kakak 7 ponakan
Film 1 Kakak 7 Ponakan menceritakan tentang cinta dan pengorbanan Moko untuk keluarga. (Foto: Mandela Pictures, Cerita Films, & Legacy Pictures)

Chicco Kurniawan, yang berperan sebagai Moko, sangat apik berakting di film ini. Ekspresi bingung, ruwet, kalut, sayang, semuanya bisa dia gambarkan dengan baik dari raut wajahnya. Dipertegas dengan tampilan Moko pakai kaos oblong dalam beberapa adegan, yang bahannya udah kendur, kucel dan bolong. Aduhhhhh bikin makin ngenes lihatnya. 

Enggak cuma menggambarkan bagaimana repotnya jadi ibu, Moko juga memperlihatkan bagaimana sulitnya jadi sandwich generation. Kerja keras bagai kuda, tapi ketika gajian, dia mendapati dirinya sendiri ada di urutan paling belakang. Uang hasil kerja itu dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan rumah dan keponakan-keponakannya. Lalu Moko? Ya sisanya, kalau ada. Kalau enggak tersisa, ya enggak apa-apa, yang penting kebutuhan rumah dan keponakan tercukupi. 

Hufftiee, ikut nyesek sih dada ini liat bagaimana Moko menjalani hidupnya. Ada satu adegan ketika Moko bilang, dia merasa bersalah kalau berpikir pengin punya “hidupnya” sendiri. Dan ini sangat relate buat mereka yang jadi pelaku sandwich generation di keluarga. Aku benci mengakui kalau adegan itu sangat valid dengan kondisi di dunia nyata. Padahal kalau kita memilih diri kita sendiri agar lebih baik, nggak salah kan? Tapi kenapa itu terasa salah?!

Terhadap karakter Moko, Chicco pun merasa kalau Moko egois. “Moko tuh egois juga lho. Karena dia maunya milih keluarga, nggak pernah milih diri dia sendiri,” ucapnya mengutip Tempo. Chicco sendiri mengakui kalau dia tidak sanggup membaca naskahnya sampai selesai saat reading kali pertama. Dia menangis. Berat sekali rasanya kisah Moko. 

Pada akhirnya memang Moko memilih untuk berkorban demi melindungi keluarga, dengan segala konsekuensinya. Termasuk konsekuensi timeline mewujudkan impian karir, jadi lebih lambat dari yang lainnya. Tapi, ya, mari kita hargai keputusan Moko dan juga “Moko-Moko” lainnya di luar sana. Karena tidak semua orang punya keberanian untuk mendahulukan cinta dan tanggung jawab terhadap keluarga, di saat yang lain mungkin memilih mengejar ambisi pribadi. Yang penting, jangan lupa untuk bikin senang diri sendiri ya, Moko, meski sesekali. (*) 

Penulis: Devy Octafiani, seorang ibu yang tinggal di Bekasi

Editor: Janesti 

Kredit Foto: Mandela Pictures, Cerita Films, & Legacy Pictures

Janesti
Follow Me